Featured Post

KPU Kota Pasuruan Lantik 20 Anggota PPK

Gambar
Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Janji anggota PPK dalam pemilu Walikota Dan Wakil Walikota oleh Ketua KPU Kota Pasuruan, Royce Diana Sari. Pasuruan-PaslineNews Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pasuruan melantik 20 orang Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Pengambilan sumpah janji dipandu oleh Ketua KPU Kota Pasuruan Royce Diana Sari dalam acara Pelantikan Panitia Pemilihan Kecamatan Dalam Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024, di aula Kantor KPU Kota Pasuruan, Jalan Panglima Sudirman No. 119 A, Kota Pasuruan, Kamis  (16/05/24). Ketua KPU Kota Pasuruan Royce Diana Sari mengatakan, anggota Panitia Pemilihan Kecamatan  dibentuk untuk membantu KPU  di setiap proses dan tahapan pemilu  ditingkat kecamatan.  "Ada lima anggota PPK di setiap kecamatan  yang bertugas selama delapan bulan sejak dilantik pada tanggal 16 Mei 2024 hingga tanggal 27 Januari 2025. Di kota Pasuruan sendiri terdapat empat kecamatan," ucap Royce. Dia menambahkan, Tugas PPK dalam waktu dekat adalah

Upaya Angkat Olahan Bandeng Jelak Menjadi Komoditi Unggulan Kota Pasuruan. Oleh: Mulyo Prabowo

Poklasar Jelak Joyo Food menunjukan salah satu kreasi olahan bandeng jelak.


Pasuruan-PaslineNews 

Nama bandeng jelak sudah tidak asing ditelinga masyarakat Pasuruan. Jenis ikan bersisik keperakan hasil budidaya petambak di Pedukuhan Jelak, Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan  itu sangat disukai karena rasa dagingnya lebih gurih, lembut dan tidak bau tanah.


Ketua Kelompok Pengelola dan Pemasaran (Poklasar) produk olahan bandeng  Jelak Joyo Food (JJF), Nurhayati mengatakan, bandeng jelak memang sedikit berbeda dibanding ikan bandeng dari daerah lain. Selain rasanya lebih gurih dan tidak bau tanah, perbedaan itu terlihat dari bentuk fisiknya. Bandeng jelak memiliki ukuran sedikit lebih kecil tapi berisi. Rata-rata perkilonya berisi empat ekor, atau sekitar 2,5 ons per ekornya dalam kondisi segar. 


Ciri lainnya, bandeng jelak bibirnya berwarna merah. Sehingga banyak orang menyebutnya dengan si bibir merah, atau ikan bergincu. "Itu ciri fisik khas bandeng jelak yang tidak dimiliki ikan bandeng dari daerah lain," jelas Nurhayati di pusat olahan JJF, di Pedukuhan Jelak, Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Senin (25/03/24).


Diskripsi atau ciri-ciri bandeng jelak yang disampaikan Nurhayati tersebut diiyakan oleh Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan M. Mualif Arif.   Menurutnya, ciri fisik dan rasa dagingnya yang tidak bau tanah disebabkan oleh faktor geologi kawasan Jelak. Tekstur dan struktur tanahnya juga kandungan unsur haranya berbeda dengan tambak-tambak di daerah lain. Sehingga  jenis lumut yang  menjadi makanan utama bandeng  selain ganggang dan plankton yang tumbuh di tambak Jelak  juga  berbeda.


"Umumnya, ikan bandeng berbau tanah. Berbeda dengan  bandeng Jelak, memiliki keunikan, rasanya lebih gurih, dagingnya lembut dan tidak bau tanah. Hal  itu disebabkan faktor geologi di kawasan Jelak," terang Mualif Arif di ruang kerjanya, Senin (25/03/24).


Keunikan bandeng jelak tersebut ditangkap oleh Pemerintah Kota Pasuruan menjadi sebuah keunggulan. Menjadi produk unggulan Kota Pasuruan komoditi olahan makanan berbasis ikan bandeng jelak. Bahkan, dijadikan salah satu ikon kuliner Kota Pasuruan. 


Mualif Arif menuturkan, pemerintah berupaya keras mengenalkan bandeng jelak jauh lebih luas. Langkah pemerintah, melalui Dinas Perikanan Kota Pasuruan membranding bandeng jelak dan memastikan produk tersedia ada. Dengan brand Bandeng Jelak, diharapkan akan mempermudah promosi lebih luas ke daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan mancanegara.


Untuk itu pihaknya  telah memfasilitasi kelompok-kelompok pengelola dan pemasaran  (Polaksar) dan melakukan pembinaan  diversifikasi produk olahan ikan bandeng. Hal itu dilakukan untuk memperkuat varian dan mutu produk yang akan ditawarkan ke konsumen.


"Beberapa Polaksar sudah mampu mengembangkan produk olahan bandeng menjadi bermacam varian menu baru yang tidak dimiliki daerah lain. Seperti, Bandeng Bakar Madu, Bandeng Krispi, Steak Duri Bandeng, Sate Komo Bandeng dan masih banyak menu kreasi lainnya," papar Mualif Arif.


Polaksar binaan Dinas Perikanan  semakin  berkembang dan terus berinovasi mengembangkan menu baru diantaranya JJF. Polaksar yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga ini sudah mampu mengembangkan diversifikasi produk olahan bandeng. Bermacam menu baru telah dihasilkan dan sukses di pasaran. 


Meski omsetnya tidak terlalu besar, tapi setiap tahun mengalami kenaikan omset secara signifikan. Menurut Nurhayati, dalam satu bulan JJF mampu memproduksi 3 hingga 4 kwintal bandeng jelak. Sedangkan perputaran uang antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan.


"Dulu kami hanya memproduksi puluhan kilo. Setelah menjadi binaan Dinas Perikanan, di awal tahun 2024 ini kami mampu produksi ratusan kilo setiap bulannya," ujar Nurhayati.


Mualif Arif menyebut, saat ini hanya ada lima Polaksar yang menjadi binaan Dinas Perikanan Kota Pasuruan. Polaksar akan terus berkembang karena Dinas Perikanan tidak henti-hentinya melakukan pembinaan dan pelatihan mengolah bandeng jelak.  Polaksar binaan itu diharapkan dapat merangsang masyarakat Kota Pasuruan berbisnis kuliner olahan bandeng jelak.


Untuk merangsang  minat masyarakat masuk dalam bisnis olahan ikan bandeng, Dinas Perikanan Kota Pasuruan menyelenggarakan Festival Bandeng Jelak. Festival yang digelar setiap tahun itu diisi lomba cipta menu ikan bandeng jelak dan kontes bandeng jelak. Tidak hanya itu, pemerintah selalu menghadirkan bandeng jelak di setiap event yang digelar pemerintah seperti event Hari Jadi Kota Pasuruan.


Penjualan produk olahan bandeng jelak tidak lepas dari peran pemerintah daerah yang memberi porsi lebih besar kepada menu olahan bandeng jelak untuk konsumsi di setiap kegiatan OPD Kota Pasuruan. "Selama ini pasar kami paling banyak melayani pesanan dari kantor-kantor pemerintah maupun BUMN," ucap Nurhayati.


Tidak hanya itu, disekitar tahun 2022 pemerintah meluncurkan jurus ampuh yang diberi label Banser, sinonim dari bandeng serbu resto. Sebuah upaya mengangkat brand bandeng jelak merambah hotel dan resto di Kota Pasuruan. 


Upaya pemerintah bekerjasama dengan hotel dan resto ini tidak disia-siakan oleh Poklasar untuk menjual produk-produk unggulannya. Dengan kemasan yang mewah brand Bandeng Jelak menjadi produk kuliner yang ekslusif sejajar dengan kuliner produk pabrikan.


Namun, tidak banyak resto atau hotel yang memajang produk olahan bandeng jelak. Menurut Mualif Alif, belum banyak resto atau pusat oleh-oleh di Kota Pasuruan yang memajang olahan bandeng jelak.  Hanya beberapa  seperti, Hotel Ascent Premiere, Hotel Valensia, Kafe jalan tengah dan resto Kebon Pring.


"Pasar di Kota Pasuruan sebenarnya masih terbuka lebar. Masyarakat bisa membuka gerai-gerai yang  khusus menjual kuliner olahan bandeng jelak. Ritel-ritel modern, pusat oleh-oleh dan kios-kios di Kota Madinah ini bisa menjadi ladang penjualan si bibir merah," kata Mualif Arif.


Masalahnya. Pasar yang masih luas ternyata  tidak berbanding lurus dengan jumlah produsen olahan bandeng jelak. Masih sedikit masyarakat yang tertarik bisnis olahan bandeng jelak. Padahal dari sisi ketersediaan bahan baku terhitung melimpah. 


Data dari Dinas Perikanan Kota Pasuruan, total produksi di tahun 2023 saja sebesar 1.834.363 kilogram. Di awal tahun 2024, pada bulan Februari   petambak telah memanen 243.685 kilogram bandeng bergincu.  Biasanya petambak memanen bandengnya  berumur antara 3- 4 bulan. Dari jumlah sebanyak itu yang terserap produsen olahan bandeng jelak  hanya sekitar 1,5%, sisanya berupa bandeng segar dijual ke pedagang ikan segar dipasar-pasar.


Sangat disayangkan jika bandeng jelak dijual dalam bentuk bandeng segar. Menjual produk olahan bandeng  memiliki nilai ekonomi lebih dibanding bandeng segar. Sebab, komoditi olahan bandeng jelak memiliki multiplayer efek atau efek domino terhadap pemberdayaan masyarakat. 


Melibatkan sumber daya manusia mulai dari tenaga budidaya di tambak, tenaga angkut, tenaga pengolahan, hingga tenaga penjualan. Juga berefek pada penjualan kemasan dan instrumen lain yang terlibat didalamnya.


Bahan baku melimpah mestinya menjadi modal untuk bersaing dengan daerah lain karena dari sisi harga terhitung lebih murah. Produsen dan pedagang olahan bandeng jelak harus berani ekspansi keluar daerah. 


Berbeda dengan Kota Semarang. Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini telah  sukses mengangkat  bandeng juwana menjadi kuliner khas Kota Semarang. Padahal bandeng Juwana dibudidayakan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 99 km, sekitar 2 jam perjalanan. 


Selain itu, produsen olahan bandeng di Kota Semarang juga mendatangkan ikan bandeng dari daerah Kendal. Artinya, produsen olahan bandeng di Kota Semarang harus mendatangkan bandeng segar dari daerah lain. Hal itu dikatakan Bekti Munjazanah, Kabid  Budidaya Ikan, Dinas Perikanan Kota Semarang, (21/03/24).


Kota Pasuruan patut meniru Kota Semarang dalam mengelola pemasaran bandeng jelak. Sebagai pemain lama, Kota Semarang mampu menciptakan pasar olahan  bandeng. Bekerja sama dengan UM (Usaha Mikro) bandeng olahan membangun pusat oleh-oleh kuliner bandeng.


M.W Jati, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang mengatakan, Pemerintah Kota Semarang telah  membangun  Geleri UM di beberapa titik strategis di Kota Semarang. Barang yang dpasarkan berasal dari anggota UM bandeng olahan sebagai sarana promo. Pemasaran juga dilakukan melalui dunia maya,  bekerjasama dengan toko online, seperti Shopee, Tokopedia dan lainnya. 


Belajar dari Kota Semarang, Pemerintah Kota Pasuruan harus bekerja sama dengan kelompok usaha mikro olahan bandeng jelak membangun galeri di titik-titik strategis sebagai sarana promosi. Mungkin saja dengan dibangunnya Geleri tersebut dapat merangsang masyarakat untuk berbisnis olahan bandeng jelak. 


Dengan tersedianya tempat-tempat promosi seperti galeri, sangat membantu produsen olahan bandeng jelak menawarkan produknya. Promosi dan menjual melalui dunia maya menjadi lebih mengena. Ibarat kata,  promosi bukan menawarkan pepes kosong. 


Satu lagi yang perlu perjuangkan oleh pemerintah adalah sisi permodalan . Sebab, rata-rata produsen bandeng jelak olahan di Kota Pasuruan kelasnya masih usaha mikro (UM). Belum ada yang kelasnya industri pabrikan seperti di Kota Semarang. Faktor modal ini juga mungkin menjadi kendala bagi masyarakat untuk masuk di bisnis olahan bandeng jelak.


Berkaca dari Kota Semarang,  Permodalan UM dibantu oleh BUMD perbankan di Kota  Semarang. "Pemerintah memfasilitasi permodalan  bekerja sama dengan BUMD perbankan di Kota Semarang dengan memberi bantuan tanpa bunga di bawah 5 juta," ujar M.W Jati.


Di Kota Pasuruan sendiri juga ada BUMD perbankan yakni BPR Kota Pasuruan. Pemerintah Kota Pasuruan bisa bekerja  sama untuk memfasilitasi permodalan bagi Polaksar atau UM olahan bandeng jelak. 


Upaya pantang mundur Pemerintah Kota Pasuruan untuk mengangkat potensi si bibir merah sangat luar biasa. Mulai dari pembinaan  pengolahan dan kemasan  kepada Polaksar, serta upaya pemasaran olahan bandeng jelak, dilakukan pemerintah Kota Pasuruan secara konsisten dan  kontinyu.


Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah yakni membangun galeri bekerja sama dengan kelompok usaha mikro olahan bandeng jelak dan memfasilitasi permodalan bekerja sama dengan BPR Kota Pasuruan atau lembaga keuangan lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anggur Wirogunan Andalan Pertanian Kota Pasuruan

Porprov Jatim VIII /2023, Kontingen Kota Pasuruan Tanpa Pencak Silat

Rudiyanto, AP.M.M., Sekda Kota Pasuruan