Featured Post

Pelayanan Vaksin Lengkap hingga Booster-2, Ciptakan Herd Immunity.

Gambar
Pasuruan-PaslineNews. Ciptakan Herd Immunity  atau populasi masyarakat kebal penyakit menular, Program vaksinasi Corona virus terus berlanjut. Pemerintah sudah mencanangkan vaksin bosster-2. Untuk itu, Rumah Vaksin Taman Kota Pasuruan sudah siap jika masyarakat melaksanakan vaksin booster-2. Dinas Kesehatan Kota Pasuruan kolaborasi dengan Badan Intelejen Negara ( BIN ) Daerah Jawa Timur tetap membuka layanan vaksin di Rumah Vaksin Taman Kota Pasuruan, seperti biasanya. Pelayanan vaksin lengkap terus berlanjut, baik dosis satu, dua, maupun booster-1 dan Booster-2. '"Menghadapi program vaksinasi booster-2, Rumah Vaksin Taman Kota membuka layanan seperti biasa. Tidak ada persiapan khusus. Kami masih tetap melayani vaksin dosis satu, dua maupun booster-1 dan booster-2. Memang sampai hari ini, belum ada yang vaksin booster-2.  kebanyakan vaksin booster-1," ujar dr. Ardiansyah, koordinator vaksin di Rumah Vaksin Taman Kota Pasuruan, Senin (01/08/22). Pewarta : Mulyo.

Suku Jawa Keturunan Nabi Ibrahim ? Oleh : Cak Bowo

Tradisi Marjakani atau Entas-Entas atau sunat masyarakat Tengger


Pasuruan-PaslineNews.

Mungkin orang Jawa pada umumnya tidak menyadari bahwa  ada bukti-bukti kuat yang menegaskan bahwa orang Jawa atau Suku Jawa adalah keturunan Nabi Ibrahim. Bukti-bukti tersebut berupa tulisan sejarah,  tradisi atau budaya, serta kepercayaan masyarakat Jawa.


Menurut kitab /buku yang ditulis beberapa sejarawan dan ulama Islam, garis keturunan bangsa Jawa/Jawi berasal dari pernikahan Nabi Ibrahim dengan istri ketiganya yang bernama Qanturah/Ketura. Para sejarawan dan para ulama menyepakati bahwa istri ketiga nabi Ibrahim adalah Qanturah, hal ini dapat dilihat didalam beberapa buku dan kitab, seperti yang telah ditulis oleh Abuya Hamka di dalam  tafsir Al-Azhar-nya (2015), hal. 263. Kemudian ditulis oleh Maulana Muhammad Ali dalam Tafsirnya : Al-Qur’an Terjemahan dan Tafsir (2015), hal. 233. Kemudian oleh Ahmad Suhelmi, dalam bukunya : Salib di Bulan Sabil (2007), hal. 229 dan beberapa riwayat lainnya. Kesimpulannya bahwa keberadaan Qanturah sebagai istri Nabi Ibrahim disini memang tertulis dalam sejarah bahwa beliau memiliki istri selain Dewi Hajar dan Sarah.  


Cerita tersebut juga ada tertulis dalam kitab Taurat versi Injil Kristiani di bab kejadian yamg menyebutkan bahwa Ibrahim memiliki tiga istri yakni Sara, Hajar, dan Ketura (Kenthura/Kethura). Dari istri Ketura ini  Ibrahim memiliki 6 orang anak yang kemudian keturunannya banyak menyebar atau bermigrasi ke arah timur, termasuk ke Jawa ( Nusantara ). Bahkan suku Melayu di Malaysia sangat meyakini bahwa ras Melayu merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari istri Kentura.


Berikut silsilah keturunan Nabi Ibrahim dari istri Ketura yang tertulis di perjanjian lama (Taurat) kitab Injil di bab kejadian, 25 ayat 2-4. Teks: 25:2  Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, (f)  Yoksan, Medan, Midian, (g)  Isybak dan Suah. (h)  25:3 Yoksan memperanakkan Syeba ( i)  dan Dedan. (j ) Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum. 25:4 Anak-anak Midian ialah Efa, (k)  Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura.


Selain bukti sejarah, bukti lain bahwa Ibrahim bapak suku Jawa, bisa dilihat dari tradisi atau budaya  masyarakat Jawa,  tentang ajaran ketuhanan dan tradisi kehidupan  orang Jawa. Ditilik dari ajaran agama  Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim mengajarkan konsep ketuhanan monotheis atau Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut sejalan dengan konsep  ketuhanan orang Jawa kuno yang mempercayai Tuhan yang satu (monotheis) melalui jalan menggali dari dalam dirinya sendiri dan alam yang disebut Kapitayan. 


Memang, ajaran Kapitayan masyarakat Jawa tidak pernah diajarkan di sekolah. Yang diajarkan  selama ini adalah sejarah  kepercayaan masyarakat Jawa Purba sebelum terjadi migrasi bangsa-bangsa lain ke pulau Jawa atau Nusantara, yakni kepercayaan  animisme dan dinamisme. 


Jawa identik dengan kebaikan. Orang Jawa juga memegang kuat tradisi sopan santun, unggah ungguh, hormat pada orang tua dan orang yang usianya lebih tua, juga orang yang dituakan karena ilmunya (guru). Dan juga menjalani budaya sabar, tawakal, lilo (ikhlas) narimo (menerima dengan besar hati) , dan temen (sungguh-sungguh), dan masih banyak lagi budaya kebajikan masyarakat Jawa. Artinya, Jawa identik dengan kebaikan. Hal tersebut selaras dengan syariat agama wahyu (Samawi) yang di bawa Nabi Ibrahim dan nabi-nabi dari keturunan Nabi Ibrahim.


Bukti berikutnya adalah tradisi sunat masyarakat Jawa. Di dalam kitab suci agama-agama samawi dan literatur sejarah lainnya menyebutkan, bangsa yang bersunat adalah keturunan Ibrahim. Hal ini ditegaskan dalam bab kejadian 17:9-14 kitab Injil perjanjian lama (Taurat).

#Kejadian 17:9-14 (9) Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun temurun; 

(10) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 

(11) Haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

(12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki diantara kamu, turun temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.

(13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.

(14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

Tentang sunat, suku Jawa Tengger (sub suku Jawa) yang beragama Hindu secara turun temurun melaksanakan tradisi sunat yang disebut "Marjakani", ada juga yang menyebutnya "Entas-Entas. Selain sunat, suku Tengger yang menganut agama Hindu meyakini Tuhan yang satu/yang Maha Esa yaitu Sang Yang Widi Wase. Dan juga percaya pada hari kiamat atau hari akhir yang disebut "Mahapralaya". Keadaan mahapralaya adalah ketika dunia ini tersedot atau mengalami kontraksi bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.


Penting diketahui, bahwa ajaran agama Hindu Jawa (Tengger) berbeda dengan Hindu India. Ajaran Hindu Jawa dalam menyembah Tuhannya tidak melalui pemujaan patung, berhala atau sejenisnya. Di dalam tempat peribadatan Hindu Jawa yang disebut Pura hanya hamparan tanah lapang, ada juga yang  beralaskan batu, bata merah, paving, atau keramik. Ditempat suci tersebut dilengkapi dengan tempat menaruh sesaji yang disebut pelangkiran. Tidak ada patung tempat pemujaan di tempat suci tersebut. Patung selamat datang yang berjumlah dua buah hanya berada diluar pura di pintu masuk ke Pura.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nico : Pasar Ramadhan Sepi Disebabkan Perencanaan Kurang Matang, Konsep Tidak Jelas dan Promosi Kurang Masif.

Gus Ipul Tuding Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Penyumbang Nilai Terendah Indeks Inovasi Daerah Kota Pasuruan

KBTTPK Padepokan Agung Suwayuwo Pasuruan ll Gelar Peringatan 10 Suro 1953 J