Featured Post

Izul : Ngaji Rutin Jumat Legi Untuk Meningkatkan Keimanan Pengurus Dan Memperkuat Tali Silaturahmi Antara Pengurus Dengan Masyarakat.

Gambar
Pengurus Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kita Pasuruan gelar pengajian rutin setiap Jumat Legi. Pasuruan-PaslineNews Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Pasuruan menggelar Ngaji Jumat Legi bareng jajaran pengurus anak cabang dan ranting bersama masyarakat, di kantor DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Jalan KH. Mas Mansyur, Kelurahan Sekar Gadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Jumat (22/10) malam. Karena masih dalam pandemi Covid-19, ngaji Jumat Legi tersebut digelar sederhana hanya dihadiri beberapa pengurus dan perwakilan masyarakat. Dipimpin ustad Karim tokoh masyarakat Sekar Gadung, seluruh yang hadir membaca Maulud diba'. "Karena masih di bulan Maulud (penanggalan Jawa), kami membaca maulud diba' untuk memperingati hari kelahiran Rosulillah Muhammad saw, "ucap Izul, Wakil Ketua Bidang Hukum DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan. Ngaji Jumat Legi tersebut merupakan yang kali kedua diselenggarakan. Dan digelar rutin setiap hari Jumat pasaran Legi (p

KBTTPK Padepokan Agung Suwayuwo Pasuruan ll Gelar Peringatan 10 Suro 1953 J



Pasuruan-Pasline

Tidak banyak masyarakat Jawa yang  masih memegang teguh dan melestarikan adat budayanya. Diantaranya adalah kelompok penghayat kebatinan Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan (KBTTPK). Kelompok ini menyelenggarakan peringatan 10 Suro di Pedepokan Agung Suwayuwa Pasuruan ll, Jalan KH. Ahmad Dahlan RT 03/RW 01 No.59, Kulon Dalan Suwayuwo-Sukorejo-Pasuruan, Sabtu (14.09/19) malam.

Menurut masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap sakral. Waktu untuk membersihkan benda pusaka  dan bersih diri. Biasanya diiringi pagelaran wayang sebagai media penerangan yang membawa pesan moral, hidup dan kehidupan. Juga berisi tentang lelaku kaweruh batin untuk nyawiji kepada Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga dengan paguyuban KBTTPK Depok Agung Suwayuwa Pasuruan II. Menyelenggarakan peringatan 10 Suro dengan pagelaran wayang kulit 3 dalang : Ki Kunto Wibissana, S.Of, Ki Kudarto, Ki Fanny, dengan lakon "Dumadine Layang Kalimasada".

Selain wayangan, inti dari acara tersebut adalah memberikan pencerahan batin pada masyarakat tentang perilaku dan lelaku spiritual. Seperti yang disampaikan sesepuh Pinisepuh Mbah Ngationo. Beliau menuturkan, budaya spiritual bukan agama, tapi kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa pencipta alam. Bermacam-macam agama dan keyakinan, namun satu.  Dari agama apapun belajar kebatinan. Dan di jaman ini, manunggal sudah saatnya. Di jaman maju ini, spiritual cara melakukannya beda, di lakoni sendiri-sendiri.

"Saya bersyukur kepada Tuhan, pada saat ini menghormati dan mensyukuri serta meneruskan budaya leluhur dari dulu tidak berubah. Kelestarian leluhur jangan di tinggal dan sekarang sudah waktunya. Dengan nembah kepada tuhan, mari berdoa. Walaupun spiritualnya ala kadarnya, namun yang disajikan disini cukup meriah. Ini menunjukan rasa syukur pada Bumi Pertiwi, "tutur Mbah Ngationo. Kemudian Mbah Ngationo memimpin langsung budaya spiritual mengheningkan cipta khusus keluarga KBTTPK.

Wejangan atau pencerahan batin juga disampaikan oleh Ketua HPK Pasuruan, Romo Bambang Wiyono. Menurutnya,  KBTTPK merupakan penghayatan dari batin, seperti apa kita bisa jadi contoh untuk keluarga. Tujuannya adalah, bagaiman kita bisa menata budi pekerti luhur. Mengajari hal -hal baik agar bisa menyempurnakan panembahan jati. Ini diluar konteks agama. Ini hanya nguri budaya luhur. Bagaimana kita bisa punya tanggungjawab untuk diri sendiri dan keluarga.

Jadi kita harus bisa memilah. Kita menahan jati untuk luhurnya budi, bagaimana kita bisa bertoleransi. Kita semua punya landasan, harus bisa satu ideologi yakni Pancasila. Kalau ini sudah kita jalankan, tidak mungkin kita akan menyinggung yang lain. Pancasila sekarang sudah menulis, bagaimana 'Kadang' sebagai pelopor untuk melaksanakan landasan yang namanya Pancasila melalui paguyuban ini. Jadi kita harus bisa membaur dengan organisasi atau kelompok lainnya seperti forum komunikasi umat beragama (FKUB). Kita bisa menjadi contoh bagi lainnya. Disertai pengetahuan dengan Panca Budi Brata.

"Ini sudah saya terapkan di FKUB Pasuruan l. Mari, dari warga Suwayuwa, panjenengan tunjukan sikap berbudi luhur. Kita harus bisa memberi contoh pada lainnya, berbudi pekerti dan berbudi luhur. Minimal keluarga dulu. Kita harus awas eling lan waspodo. Masalah datang dari diri kita, dirumah kita, lingkungan kita dan pengaruh orang yang jauh dari kita, "wejang Pinisepuh Romo Bambang Wiyono.

Puncak acara, persis jam 12.00 malam, seluruh anggota KBTTPK melakukan hening bersama,  berdoa kepada Tuhan, dipimpin oleh pinisepuh Bopo Naseri.(B.)

Postingan populer dari blog ini

Pelaksanaan Proyek Milik Pemerintah Anggaran 2021 Diwarnai Banyak Addendum

Proses Pindah Kantor DPC PDI Kota Pasuruan Tidak Ada Masalah, Arif Tepis Berita Asal.

Lubang Galian Jargas Membahayakan Warga, Komisi -3 Panggil Pelaksana PT Pratiwi Putri Sulung